Bisnistoday-Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) optimistis penyelenggaraan pameran Keramika 2026 menjadi momentum strategis untuk memperkuat daya saing produk keramik nasional di pasar domestik maupun global.
Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026 menyampaikan pameran Keramika 2026 menjadi etalase penting bagi industri keramik nasional untuk menunjukkan kualitas dan inovasi produk dalam negeri.
“Keramika 2026 adalah etalase kebanggaan industri keramik nasional. Kami ingin membuktikan bahwa kualitas, desain dan teknologi pabrikan lokal siap bersaing di pasar global sekaligus memenuhi kebutuhan proyek-proyek premium di Indonesia,” kata Edy.
Pameran yang digelar bersamaan dengan Megabuild dan Megaproperty 2026 itu dinilai mampu mempertemukan seluruh rantai pasok industri konstruksi dan properti dalam satu platform terintegrasi.
ASAKI menyebut industri keramik nasional mulai menunjukkan pemulihan dan bersiap memperluas kapasitas produksi hingga 2029 di tengah tekanan impor produk global.
Lebih lanjut Edy mengatakan industri keramik nasional sempat menghadapi tekanan berat dalam beberapa tahun terakhir akibat membanjirnya produk impor dari sejumlah negara produsen.
“Comeback stronger melalui Keramika 2026 ini, setelah bertahun-tahun menghadapi tekanan yang berat, khususnya menghadapi unfair trade dan dumping dari produsen keramik China, demikian juga unfair trade dari India dan Vietnam,” ujar Edy.
Selain tekanan impor, industri keramik nasional juga masih dibayangi tingginya biaya energi dan pasokan gas untuk kebutuhan produksi.
Kondisi tersebut dinilai memengaruhi tingkat utilisasi industri dalam beberapa tahun terakhir. ASAKI mencatat utilisasi industri keramik nasional sempat mencapai sekitar 75 persen pada 2021 sebelum turun menjadi 66 persen pada 2024.
Meski sebelumnya menargetkan utilisasi dapat mencapai 80 persen pada 2026, ASAKI merevisi target menjadi sekitar 73 hingga 75 persen dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan ekonomi global.
“Menurut data terbaru, Januari sampai Mei utilisasi kita 72 persen. Satu persen di bawah rata-rata nasional tahun lalu, namun ASAKI masih optimistis di satu semester lagi,” kata Edy.
ASAKI mengacu pada data World Ceramic Tiles Forum yang menunjukkan produksi keramik dunia mencapai 15,9 miliar meter persegi pada 2021. Namun angka tersebut turun hampir 30 persen menjadi sekitar 11,3 miliar meter persegi pada 2024.
Di tengah perlambatan global tersebut, industri keramik nasional justru mulai melakukan ekspansi kapasitas produksi.
ASAKI mencatat penambahan kapasitas industri mencapai sekitar 73 juta meter persegi pada periode 2020 hingga 2024. Sementara pada 2025 hingga 2029 diproyeksikan kembali bertambah sekitar 90 juta meter persegi.
“2025 sampai tahun 2029 nanti ada tambahan lagi ekspansi kurang lebih 90 juta meter persegi,” ujar Edy.
Dengan demikian, total ekspansi industri keramik nasional hingga 2029 diperkirakan mencapai sekitar 165 juta meter persegi.
ASAKI menilai industri keramik nasional sebenarnya sudah mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri tanpa bergantung pada produk impor. “Kita sudah swasembada keramik. Tanpa impor pun, kita mampu memenuhi permintaan keramik dalam negeri,” kata Edy.
Meski demikian, ASAKI menilai pertumbuhan industri masih sangat bergantung pada pasar domestik karena kontribusi ekspor keramik nasional masih berada di bawah lima persen. “Industri keramik nasional sangat domestic driven. Mati hidupnya industri keramik sangat tergantung permintaan domestik,” pungkasnya. Bori/ Dw