Bank BSN Perkuat Segmen Milenial, Luncurkan KPR Bonus Emas

BISNISTODAY.COM, Bekasi – PT Bank Syariah Nasional (Bank BSN) memperkuat penetrasi pasar pembiayaan hunian melalui inovasi produk bundling KPR dan emas untuk menyasar semua segmen konsumen.

Langkah ini merupakan strategi perseroan dalam meningkatkan nilai tambah bagi nasabah sekaligus memperkuat posisi sebagai mitra utama keuangan keluarga.

Direktur Consumer Banking Bank BSN, Mochamad Yut Penta, menjelaskan bahwa pembiayaan KPR Bank BSN saat ini tidak hanya fokus pada pemilikan aset properti, tetapi juga membawa nilai filosofis untuk menjaga jiwa dan keturunan sesuai prinsip Maqasid Syariah. Melalui integrasi KPR dan emas, nasabah kini dapat memiliki hunian sekaligus aset likuid secara bersamaan.

“Melalui bundling KPR dan emas, narasi yang kita bangun adalah nasabah memiliki rumah sekaligus aset likuid. Jadi, selain menjaga jiwa dan keturunan, Bank BSN juga menjaga keamanan finansial keluarga. Hal ini sejalan dengan visi perseroan menjadi mitra utama keuangan keluarga yang berkah dan amanah,” kata Penta di sela acara Penyerahan Simbolis Akad KPR Bonus Emas bersama ISPI Group di Perumahan Mutiara Gading City, Bekasi, Rabu (6/5).

Penta mengungkapkan bahwa strategi ini sangat relevan mengingat profil nasabah Bank BSN saat ini didominasi oleh kelompok muda. Berdasarkan data perseroan, sekitar 85% segmen nasabah merupakan milenial dalam rentang usia 25 hingga 40 tahun.

“Jadi kami tidak membuat program ini untuk menyasar segmen yang baru, tidak. Segmen yang ada sekarang ini 85% adalah milenial. Ini adalah umur di mana mereka mulai memikirkan masa depannya dan memiliki literasi keuangan yang relatif lebih baik. Kami pandang program ini sangat cocok buat mereka,” imbuh Penta.

Sistem bundling ini, lanjutnya, bersifat inklusif bagi nasabah baru maupun nasabah lama. Bagi nasabah yang telah memiliki KPR di Bank BSN, mereka dapat memanfaatkan fitur cicilan emas secara mandiri sebagai bentuk diversifikasi investasi.

Kinerja fitur cicil emas di aplikasi super apps Bale Syariah mencatatkan pertumbuhan signifikan. Penta menyebutkan, realisasi cicilan emas yang melalui sistem booking melonjak hampir 5.000% dibandingkan tahun sebelumnya.

“KPR kami memiliki sifat margin yang flat (pasti), tetapi emas itu sangat likuid, bisa dijual kapan saja ketika nasabah membutuhkan. Kami melihat investasi emas trennya sedang naik karena dianggap sebagai instrumen investasi yang aman saat ini. Kami ingin terus meningkatkan value bagi customer, baik dari sisi produk maupun teknologi untuk memudahkan mereka bertransaksi,” jelasnya.

Dengan berbagai kemudahan tersebut, Bank BSN menargetkan untuk menjadi primary bank atau bank utama bagi para nasabahnya.

“Harapannya, nasabah mulai dengan ber-KPR di kita, lalu selanjutnya bertransaksi untuk keperluan apa saja melalui Bank BSN. Kami sudah menyediakan Bale Syariah dan banyak fasilitas lainnya untuk mendukung itu,” kata Penta.

Promo Margin Spesial

Dalam kesempatan yang sama, Bank BSN mensosialisasikan rangkaian program pembiayaan hunian non-subsidi terbaru yang berlaku hingga 30 Juni 2026. Untuk pengembang dengan rating Platinum, Gold, atau Kelolaan—termasuk ISPI Group—Bank BSN menawarkan promo margin khusus mulai dari 2,65% fixed 3 tahun bagi nasabah primary dan institusi.

Selain itu, tersedia pula margin 3,50% fixed 3 tahun dan 4,50% fixed 5 tahun untuk segmen pasar sekunder (secondary). Bagi masyarakat umum, Bank BSN menyediakan Promo Reguler dengan skema Fix & Cap serta pilihan margin tetap hingga 10 tahun untuk memberikan kepastian angsuran.

“Dengan jaringan mencapai 672 outlet di seluruh Indonesia, kami optimistis dapat memperkuat posisi sebagai pemimpin dalam ekosistem perumahan nasional,” pungkas Penta.

Bank BSN Menggila Usai Spin Off, Laba, Aset, dan DPK Sama-Sama Meroket

BISNISTODAY.COM, Jakarta — PT Bank Syariah Nasional (Bank BSN) membukukan lompatan kinerja finansial yang signifikan sepanjang tahun buku 2025 dengan pertumbuhan laba bersih mencapai lebih dari 300% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Lonjakan kinerja yang impresif ini merupakan dampak langsung dari aksi korporasi pemisahan unit usaha syariah (spin off) PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk pada Desember 2025. Melalui proses tersebut, Bank BSN menerima pengalihan aset dan liabilitas dari Bank Victoria Syariah serta UUS BTN.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, laba bersih Bank BSN pada akhir tahun 2025 tercatat mencapai Rp83,64 miliar, meningkat tajam 313,85% dibandingkan dengan perolehan laba tahun 2024 yang senilai Rp20,21 miliar. Realisasi ini mencerminkan pertumbuhan yang luar biasa, mengingat rekam jejak UUS BTN pada tahun-tahun sebelumnya yang konsisten mencatatkan pertumbuhan di atas rata-rata industri dan induknya.

Lompatan fantastis juga terlihat pada sisi neraca. Total aset Bank BSN per 31 Desember 2025 ditutup pada level Rp73,07 triliun, atau meningkat 2.104,5% dibandingkan posisi tahun 2024 yang sebesar Rp3,31 triliun. Capaian aset ini secara otomatis menempatkan Bank BSN sebagai bank syariah terbesar kedua di Indonesia.

Sementara itu lompatan kinerja dalam penghimpunan DPK Bank BSN tahun 2025 juga sangat menakjubkan. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga melonjak tajam menjadi Rp58,73 triliun, tumbuh 4.206,5% dari posisi 2024 yang sebesar Rp1,36 triliun.

Dari sisi fungsi intermediasi, Bank BSN mencatatkan penyaluran pembiayaan sebesar Rp54,87 triliun pada 2025. Angka tersebut tumbuh 4.083,8% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya senilai Rp1,31 triliun.

Kinerja positif Bank BSN turut didorong oleh penguatan pendapatan berbasis piutang dan bagi hasil. Pendapatan pengelolaan dana sebagai Mudharib tercatat sebesar Rp2,73 triliun, naik 1.112,3% dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp224,8 miliar.

Direktur Utama Bank BSN, Alex Sofjan Noor, menyatakan rasa syukur atas pencapaian kinerja sepanjang tahun 2025. Menurutnya, hasil ini merupakan buah dari kerja keras seluruh karyawan serta dukungan penuh dari pemangku kepentingan.

“Pencapaian ini adalah anugerah dan bukti kepercayaan stakeholder. Dukungan BTN sebagai induk menjadi motor bagi Bank BSN untuk memberikan performa terbaik,” kata Alex dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (6/5).

Alex menambahkan, ke depan Bank BSN akan fokus pada penguatan ekosistem pembiayaan perumahan berbasis syariah dengan mengedepankan inovasi digital.

“Kami bertekad menjadi bagian dari bank syariah modern dan digital-minded. Seluruh layanan akan disambungkan secara digital untuk mempermudah akses masyarakat kapan saja dan di mana saja,” ungkapnya.

Selain inovasi layanan, Bank BSN berkomitmen mengisi ruang kosong dalam ekosistem syariah nasional yang potensinya masih terbuka lebar. Melalui model literasi keuangan yang inklusif, perusahaan berharap dapat mendorong edukasi masyarakat dalam menggunakan layanan syariah untuk kebutuhan masa depan.

Hingga 31 Desember 2025, Bank BSN tercatat memiliki 37 kantor cabang, 82 kantor cabang pembantu, 3 outlet prioritas dan 546 kantor layanan syariah (KLS) di seluruh Indonesia, yang didukung oleh jaringan ATM yang terintegrasi penuh (inline) dengan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk sebagai induk usaha.

Sinergi BSN-REI Membangun Hunian, Menciptakan Kemaslahatan Masyarakat

Bandar Lampung, BISNISTODAY.COM — PT Bank Syariah Nasional (Bank BSN) dan Realestat Indonesia (REI) resmi menjalin kolaborasi strategis untuk mengembangkan layanan perbankan syariah serta memperkuat ekosistem hunian yang terintegrasi dan berkelanjutan di Indonesia.

Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) ini dilakukan di Bandar Lampung, Selasa (5/5/2026), bertepatan dengan momentum HUT REI ke-54.

Direktur Utama Bank Syariah Nasional (Bank BSN), Alex Sofjan Noor, menyatakan bahwa sinergi tersebut bertujuan mendukung optimalisasi pembiayaan perumahan berbasis syariah melalui penyediaan produk perbankan yang inovatif, transparan, dan sesuai prinsip syariah.

“Komitmen Bank BSN untuk menjadikan sektor properti sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi syariah nasional, sejalan dengan peran REI dalam mendorong pengembang menghadirkan hunian berkualitas bagi masyarakat,” kata Alex di sela Penandatangaan MOU dengan REI dan menghadiri Puncak Acara HUT REI di Bandar Lampung, Selasa (5/5).

Adapun ruang lingkup kerja sama mencakup pengembangan produk pembiayaan perumahan, program edukasi dan sosialisasi bagi pengembang serta masyarakat, serta dukungan terhadap proyek hunian yang terintegrasi dengan sistem keuangan syariah.

Sinergi ini diharapkan dapat meningkatkan inklusi keuangan syariah dan memperluas akses masyarakat terhadap hunian yang layak dan terjangkau.

Menurut Alex, ekspansi strategis ini didorong oleh performa keuangan Bank BSN yang tampil impresif dan menunjukkan tren pertumbuhan positif hingga penutupan Maret 2026.

Momentum pertumbuhan ini semakin nyata pada sisi penyaluran pembiayaan yang melonjak tajam 22% menjadi Rp56,5 triliun, yang kini telah memberikan manfaat bagi lebih dari 1,34 juta nasabah di seluruh tanah air.

Sebagai bagian dari BTN Group, Bank BSN menargetkan penyaluran KPR Subsidi sebanyak 73.700 unit pada tahun 2026, naik 34,8% dari realisasi tahun sebelumnya.

Untuk segmen KPR komersial, Alex menjelaskan bahwa Bank BSN menawarkan margin kompetitif mulai 2,65% fixed 3 tahun serta produk inovatif BSN Golden Deal yang mengintegrasikan kepemilikan rumah dengan investasi emas.

“Bank BSN ingin hadir bukan hanya saat rumah sudah siap dijual, tetapi juga sejak proses pengembangan proyek, pembiayaan lahan, hingga akhirnya rumah tersebut dimiliki oleh masyarakat,” ungkap Alex.

Perseroan juga menyediakan dukungan infrastruktur digital melalui platform Bale Syariah by BSN yang telah mencatat volume transaksi Rp2,84 triliun dari 1,2 juta transaksi hingga April 2026.

Selain itu, Bank BSN hadir dengan layanan Cash Management System, payroll, Virtual Account, hingga QRIS untuk mendukung operasional para pengembang anggota REI secara lebih efisien.

Melalui kolaborasi ini, Bank BSN bersama REI menegaskan komitmen untuk menciptakan ekosistem hunian yang menjunjung nilai keberlanjutan, keadilan, dan kemaslahatan masyarakat.

Ke depan, kerja sama akan terus diperkuat dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan terkait di industri properti demi mendorong akses hunian yang lebih luas.

Sementara itu Ketua Umum Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Joko Suranto menegaskan bahwa kerja sama ini mencakup pemanfaatan jasa layanan perbankan syariah sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kami berharap melalui kerja sama kedua belah pihak ini agar dalam penyaluran kredit ke anggota REI, kedua pihak bisa lebih profesional dan lebih baik,” ujar Joko.

TOA dan UI Kolaborasi Ajarkan Siaga Bencana Sejak Dini

Bisnistoday– Indonesia sebagai negara rawan bencana, membutuhkan penguatan sistem dan pemahaman kesiapsiagaan komprehensif diseluruh lapisan masyarakat. 

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 4.700 kejadian bencana alam sepanjang 2025. Untuk itu, upaya mitigasi tidak cukup bertumpu pada teknologi semata, tetapi juga membutuhkan kemampuan masyarakat dalam memahami dan menjalankan langkah respons tepat, guna menekan risiko korban.

Menjawab hal tersebut, TOA Indonesia bersama Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia menghadirkan rangkaian inisiatif kolaboratif bertajuk “When Knowledge Meets Readiness”, yang menyasar 5.000 siswa sekolah dasar (SD) di wilayah rawan bencana.

Brand & Community Manager TOA Indonesia, Clara Dinny Aryanti menyampaikan, “Selama ini, TOA Indonesia dikenal luas untuk penyediaan sistem pengeras suara di rumah ibadah. Namun, lebih dari itu, TOA sebagai perusahaan yang berakar dari Jepang memiliki DNA kuat dalam pengembangan sistem peringatan darurat. Kami meyakini bahwa peran TOA di Indonesia tidak berhenti pada kehadiran perangkat semata, melainkan bagaimana teknologi tersebut dapat diimplementasikan secara optimal, hingga memberikan kontribusi nyata dalam melindungi masyarakat,” ujar Clara Dinny Aryanti dalam siaran pers nya, Depok 4/5/26.

Kolaborasi ditandai dengan peluncuran dua video animasi edukasi siaga bencana di Aula Prof. Dr. Soemantri Brodjonegoro, FMIPA Universitas Indonesia, Depok. Dan  dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan FMIPA Universitas Indonesia, Prof. Anom Bowolaksono, Ph.D., Presiden Direktur TOA Indonesia, Hendrick Halim, serta Dosen Prodi Geologi & Geofisika FMIPA Universitas Indonesia, Twin Hosea W. Kristyanto, M.T. selaku moderator diskusi.

Dua video animasi edukasi bertajuk “Aku Harus Apa?”, akan disosialisasikan di SD wilayah Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Konten ini mengangkat langkah respons sederhana namun krusial yakni kebakaran, gempa bumi, dan tsunami. Pendekatan ini untuk menempatkan anak-anak sebagai penggerak edukasi sejak dini.

Melalui animasi, pesan kesiapsiagaan diharapkan dapat tersampaikan secara lebih efektif, sehingga dapat menjembatani kesenjangan pemahaman yang selama ini terjadi.

Materi video dikembangkan melalui riset kolaboratif bersama para ahli, termasuk referensi dari Research Institute of Disaster Science (IRIDES) di Tohoku University, Jepang, serta observasi lapangan di berbagai daerah lokal.

Sejalan dengan visi TOA Indonesia, Dosen Prodi Geologi & Geofisika FMIPA Universitas Indonesia, Asri Oktavioni Indraswari, S.T., M.Sc., D.Phil. mengutarakan, “Literasi kebencanaan di Indonesia masih membutuhkan upaya ekstra dalam hal bagaimana masyarakat menerjemahkan informasi menjadi tindakan. Pertemuan dengan TOA Indonesia dalam forum ilmiah AIWEST telah membuka peluang kolaborasi baru untuk menjawab tantangan ini. Hari ini menjadi kelanjutan dari komitmen yang telah dibangun bersama, dengan harapan dapat menghadirkan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat luas,” jelasnya.

Selain video animasi, TOA Indonesia juga berkomitmen mendukung implementasi perangkat komunikasi darurat di sekolah-sekolah dasar wilayah rawan bencana. Sistem komunikasi darurat terintegrasi ini membantu penyampaian pesan evakuasi secara cepat dan terkoordinasi, baik didalam maupun luar ruangan, serta dirancang sebagai bagian dari early warning system untuknmendukung respons yang lebih sigap.

Analis Kebencanaan BNPB, Trevi Jayanti Puspasari turut menanggapi positif, “Kolaborasi seperti ini sangat dibutuhkan untuk mendukung upaya di lapangan. Akademisi menghadirkan basis ilmiah, sementara industri membawa kapabilitas teknologi dan implementasi,” ujarnya.

Ke depan, TOA Indonesia dan Universitas Indonesia berharap kolaborasi ini dapat berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.

Perangkat TOA sendiri telah digunakan di sejumlah landmark dunia, seperti Stadion Noevir Kobe, Gedung Taipei 101, hingga Lapangan Tenis Wimbledon. Dewi

Dari Cikarang ke Jerman: Jalan Panjang Pipa Stainless Steel Indonesia Menembus Pasar Eropa

Bisnistoday— Di lantai produksi kawasan GIIC Deltamas, aktivitas hari itu tak sekadar rutinitas industri. Sebanyak 20 ton pipa stainless steel diberangkatkan menuju Jerman—menjadi ekspor perdana PT Stainless Prima Pipe (SPP) sejak berdiri pada 2023.

Bagi perusahaan yang relatif baru, capaian ini bukan hal sederhana. Terlebih, pasar yang dituju dikenal memiliki standar tinggi dan regulasi ketat.

Direktur Utama SPP, Mustika Ali, menyebut sejak awal perusahaan memang dirancang untuk tidak hanya bermain di pasar domestik.

“Kami membangun perusahaan ini dengan visi global. Jadi standar yang kami siapkan sejak awal memang mengikuti standar internasional,” ujarnya.

Ia menjelaskan, produk yang diekspor merupakan pipa stainless steel untuk kebutuhan industri sensitif seperti makanan dan farmasi, sektor yang menuntut presisi dan higienitas tinggi.

Secara tak langsung, Mustika menegaskan bahwa kemampuan menembus pasar Jerman menunjukkan kesiapan industri lokal dalam memenuhi standar global yang selama ini dikenal sangat ketat.

Di dalam negeri sendiri, kebutuhan produk serupa mencapai 300–400 ton, dengan SPP telah mengisi sebagian besar pasar tersebut. Namun, langkah ke luar negeri dinilai sebagai fase penting untuk meningkatkan nilai tambah produk.

Pemerintah melihat ekspor ini sebagai bagian dari tren positif sektor besi dan baja nasional. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Fajari Puntodewi, menyebut bahwa komoditas ini telah menjadi salah satu penopang utama ekspor Indonesia.

“Ini bukan hanya soal ekspor baru, tapi juga penambahan varian produk bernilai tambah,” katanya.

Ia mengakui, pasar seperti Eropa bukan tanpa tantangan. Hambatan perdagangan dan standar teknis yang tinggi kerap menjadi penghalang bagi produk negara berkembang.

Namun demikian, ia menilai keberhasilan ini menjadi sinyal bahwa produk Indonesia mulai mampu menembus batas tersebut.“Kita patut optimistis, karena ini menunjukkan bahwa industri kita sudah bisa menghasilkan produk berkualitas tinggi, bahkan untuk sektor yang sangat sensitif,” ujarnya.

Ke depan, ekspansi ke pasar global dinilai tidak hanya bergantung pada kapasitas produksi, tetapi juga konsistensi kualitas dan dukungan ekosistem industri secara menyeluruh.

Bagi SPP, langkah ke Jerman hanyalah awal. Di baliknya, ada ambisi yang lebih besar: menjadikan produk dalam negeri sebagai bagian dari rantai pasok industri global. 

Produk SANEX Raih Sertifikat Halal

Bisnistoday- PT Indo Surya Kencana dengan brand Sanex, produsen peralatan rumah tangga di Indonesia, hari ini resmi meraih sertifikat halal dari Badan PenyelenggaraJaminan Produk Halal (BPJPH). Sebanyak 60 produk Sanex telah memiliki sertifikat halal. 

Sertifikasi halal yang diperoleh mencakup berbagai kategori produk unggulan Sanex, mulai Dispenser, Kompor, Teko Listrik, Blender dan produk lainnta yang digunakan dalam aktivitas harian masyarakat.

Tren gaya hidup halal pun terus berkembang, tidak hanya pada sektor makanan dan minuman, tetapi juga merambah ke berbagai kategori produk, termasuk peralatan rumah tangga.

Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) terus bergerak mendorong para pengusaha melakukan sertifikasi halal. BPJPH bahkan menargetkan 10.000 sertifikat halal setiap harinya selama 2026 ini.

Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal  atau yang dikenal dengan sebutan Babe Haikal, menegaskan bahwa sertifikasi halal kini menjadi pembeda di tengah ketatnya persaingan pasar. Ia mencontohkan bagaimana produk non-konsumsi, seperti karbol lantai, kini mulai berbondong-bondong mencari sertifikasi halal. 

“Saya ambil contoh tadi soal karbol lantai (bersertifikat halal), akhirnya sekarang banyak pada ngikutin. Kenapa? Karena ketika satu produk berlabel halal, ini menambah nilai jual. Namanya value added, menambah nilai jual. Jadi ya industri persaingan kan seperti itu,” ujar Haikal kepada wartawan di Jakarta, Kamis (30/4/2026). 

Babe Haikal menekankan agar publik dan pelaku usaha memaknai halal lebih luas, yakni sebagai bagian dari kenyamanan konsumen. “Halal itu customer satisfaction. Halal itu kepuasan pelanggan, ketenteraman, kenyamanan, dan loyalitas,” jelasnya. 

Babe Haikal mengapresiasi langkah Sanex mengurus sertifikasi halal untuk produk elektronik dan peralatan dapur. “Ini bagian dari satu upaya untuk menenteramkan, untuk memberikan ketenangan kepada masyarakat pengguna,” tambah Babe Haikal. 

Dengan sertifikasi ini, konsumen tidak lagi merasa ragu apakah masakan dari bahan halal menggunakan barang elektronik terkontaminasi unsur yang haram. “Halal tuh buat semua, halal itu sudah menjadi bagian gaya hidup ya. Halal adalah prosperity of life. Halal adalah modern civilization,” ujar Babe Haikal.

Sertifikasi halal di Indonesia kini mengalami pergeseran paradigma yang signifikan. Tak lagi sekadar pemenuhan regulasi atau kewajiban administratif, label halal telah menjelma menjadi instrumen ekonomi baru dan strategi value added (nilai tambah) yang krusial bagi daya saing industri nasional. 

Head of Marketing PT Indo Surya Kencana, Randhika Curana, mengungkapkan langkah ini adalah komitmen perusahaan menjawab kebutuhan konsumen Indonesia. “Kami ingin memberikan ketenangan bagi konsumen dalam menggunakan produk Sanex sehari-hari,” kata .

Tidak hanya itu, pihaknya juga mengungkapkan langkah ini menjadi salah satu strategi Sanex dalam memperkuat daya saing di tengah pertumbuhan industri halal global yang terus meningkat. “Ke depan, Sanex berencana untuk terus memperluas jumlah produk halal,” tambahnya. 

Walau suhu politik global masih memanas, Sanex terus percaya diri melangkah. Penjualan di kuartal 1 hingga bulan April ini cenderung stabil. 

“Ya dengan adanya perang ini sudah pasti semua industri akan terkena dampaknya. Apalagi kemarin-kemarin juga harga biji plastik sempat naik. Tapi kami tidak serta merta menaikkan harga produk. Ya kami tetap akan menyesuaikan. Malah saat-saat ini kami sedang kebanjiran pemesanan semua produk,” ungkap Randhika. 

Yanis Naini, Direktur Sertifikasi Halal, mengatakan BPJPH mengapresiasi langkah pelaku usaha yang telah mengikuti proses sertifikasi halal sesuai ketentuan yang berlaku. 

Sertifikasi halal merupakan bagian dari penyelenggaraan Jaminan Produk Halal yang dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan, dan setiap pelaku usaha yang telah memperoleh sertifikat halal berkewajiban menjaga konsistensi penerapan Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH) dalam seluruh proses produksi.

“BPJPH juga terus mendorong pelaku usaha di berbagai sektor untuk mengikuti mekanisme sertifikasi halal, guna memberikan perlindungan, kepastian, dan kenyamanan bagi masyarakat, ” tutup Yanis. Dewi

Geopolitik Global Jadi Alarm, FSPPB Desak Pemerintah Lakukan Reformasi Tata Kelola Migas Indonesia

Bisnistoday – Konflik geopolitik di Timur Tengah menekan rantai pasok energi global, termasuk suplai minyak dan gas bumi (migas) ke Indonesia. Ketergantungan impor membuat harga BBM dalam negeri ikut terdampak fluktuasi harga minyak dunia. Akibatnya PT Pertamina (Persero) menjadi pihak yang paling merasakan beban akibat kebijakan pemerintah menjaga harga BBM bersubsidi tetap stabil.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjend) I Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) Aryo Wibowo mengatakan bahwa jauh sebelum konflik di Timur Tengah saat ini, Indonesia pernah berjaya dan sempat menjadi anggota OPEC. Namun seiring berjalannya waktu dengan kebutuhan konsumsi minyak dan gas yang terus meningkat dan lifting/ produksi di dalam negeri yang terus anjlok memaksa era kejayaan ini runtuh.

Indonesia saat ini harus bergantung pada impor khususnya minyak untuk memenuhi kebutuhan harian yang mencapai sekitar 1,6 juta barel dimana tingkat produksi minyak nasional kurang dari 600.000 barel per hari. Tingginya kuota impor ditambah dengan tekanan nilai tukar rupiah akibat konflik geopolitik menjadikan beban biaya yang dikeluarkan Pertamina sangat tinggi. Hal ini turut diperparah dengan melonjaknya harga minyak mentah dunia yang saat ini rata-rata sebulan terakhir diangka USD100 per barel.

“Kondisi saat ini sangat berat. Pertamina harus menanggung selisih kenaikan harga minyak dunia tanpa kompensasi tunai dari Pemerintah. Namun begitulah peran mulia Pertamina sebagai perusahaan negara yang harus menjalani penugasan untuk menjaga pasokan stabilitas BBM nasional,” ujar Aryo dalam Webinar acara Halal Bihalal dan Webinar Energi Forum Wartawan Sobat Energi (Forwatgi) dengan tema “Stabilitas Harga BBM di Tengah Konflik Geopolitik: Pertamina Dikorbankan?” pada Rabu (29/4).

Dalam kondisi dunia yang penuh dinamika yang pada akhirnya merembet pada kondisi ekonomi dalam negeri, Aryo menekankan peran strategis Pertamina untuk menjadi garda terdepan dalam menghadapi setiap krisis. 

Oleh Sebab itu selayaknya Pertamina mendapat dukungan yang optimal baik dari sisi regulasi tata kelola migas nasional hingga kebijakan untuk tidak terus-terusan melakukan pecah-pecah unit bisnis Pertamina. Reintegrasi Pertamina dalam satu ekosistem terpadu dari hulu dan hilir mutlak diperlukan untuk mengembalikan era kejayaan Pertamina seperti masa lalu. 

“Kalau bisnis migas yang dijalankan Pertamina ini dipisah-pisahkan (melalui holding subholding) nanti akan ada transaksi-transaksi yang justru tidak efisien sebab di saat jual beli atau bertransaksi ini mengacu pada harga minyak dunia padahal itu adalah produk kita sendiri. Ujung-ujungnya harga BBM yang diterima masyarakat tidak bisa murah,” kata Aryo.

Di sisi regulasi, UU Migas No. 22 Tahun 2001 dinilai sudah tidak relevan dengan kondisi zaman. Pemisahan regulator melalui SKK Migas dan BPH Migas justru melahirkan tumpang tindih kewenangan dan melemahkan posisi tawar negara. Hal ini berdampak pada posisi Pertamina terdowngrade sejajar dengan kontraktor asing/ swasta.

FSPPB mendorong pemerintah agar serius melakukan perubahan UU Migas yang terbukti gagal menaikkan lifting cadangan migas Indonesia (bahkan cenderung menurun) dan telah resmi mendapat catatan khusus dari Mahkamah Konstitusi yang menyatakan bahwa banyak pasal-pasal yang inkonstitusional pada tahun 2012. 

Apabila pemerintah dan DPR tidak mampu melakukan perubahan UU Migas yang sudah berulang kali masuk dalam daftar prolegnas, FSPPB mendorong agar Presiden Prabowo Subianto menerbitkan Perppu (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang) dan mengubah bentuk Pertamina sebagai Perusahaan Umum (Perum) dibawah komando langsung Prabowo selaku Presiden.

“UU Migas 22/2001 akar permasalahan tata kelola migas kita. Karena sangat liberal dan melemahkan tata kelola migas nasional. Dalam perspektif kami mengapa UU Migas yang baru tidak segera disahkan karena banyak yang nyaman dengan status Quo seperti saat ini. Banyak pihak yang rupanya menikmati UU Migas yang cacat hukum atau inkonstitusional ini,” katanya.

Aryo juga menilai bahwa status Pertamina sebagai Perusahaan Terbatas (PT) dan juga Perusahaan milik negara terbentuk dengan dua Undang-Undang sekaligus yaitu Undang-Undang PT dan UU BUMN. Di satu sisi Pertamina dituntut untuk menjadi kepanjangan tangan pemerintah untuk mengelola hingga mendistribusikan energi sesuai keputusan pemerintah, namun di sisi lain Pertamina tidak boleh merugi.

Hal tersebut menjadi dilema bagi Pertamina karena berpotensi siapapun yang menjadi jajaran Direksi Pertamina selama tidak memenuhi dua tuntutan yang saling bertolak belakang tersebut dapat dipidanakan. “Jadi serba salah kalau imbasnya merugi,” kata Aryo. 

Dengan segenap dinamika tersebut FSPPB menyimpulkan beberapa poin penting, yaitu mendorong kepada pemerintah untuk segera melakukan proses reintegrasi Pertamina dari hulu hingga hilir agar Pertamina dapat memenuhi amanat Pasal 33 UUD 45. FSPPB juga meminta pemerintah untuk menghentikan segala niat atau rencana untuk melakukan privatisasi terhadap anak – anak usaha Pertamina serta mendorong dilakukannya perubahan UU Migas.

“Ke depan kita minta supaya tidak ada lagi anak usaha yang IPO (Initial Public Offering), solusinya adalah dengan kita menjadi satu kembali secara total dari hulu sampai hilir,” katanya.

Sementara itu Pakar Energi, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menjelaskan bahwa persepektif untuk melihat serangkaian bisnis hilir Pertamina tidak bisa hanya dilihat di Jawa atau Sumatera saja. Namun harus keluar ke wilayah-wilayah yang sulit di jangkau seperti di Papua dan wilayah terpencil lainnya. Dari sana akan terlihat bahwa peran besar Pertamina terhadap pembangunan NKRI sangat besar.

Dalam kondisi yang serba sulit baik dari sisi distribusi ataupun dari sisi pengadaan di hulu, Pertamina menjadi yang paling depan. Bahkan di saat terjadi konflik di Timur Tengah yang berlangsung hingga saat ini, Pertamina tetap komitmen untuk menyediakan BBM dan produk energi lainnya di seluruh wilayah di Indonesia.

Padahal di saat yang sama pemerintah mengakui terdapat tekanan fiskal akibat kenaikan harga minyak mentah dunia dan pelemahan rupiah. Namun ternyata demi menjaga stabilitas nasional, pemerintah memaksakan diri untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi yang mana beban untuk menanggung selisih harga minyak yang terus melambung tersebut berasal dari dompet Pertamina.

“Kenaikan harga minyak yang meningkat menekan fiskal negara, hal ini membuat beban ini bergeser dari negara ke pertamina, harusnya subsidi ditanggung pemerintah tapi karena fiskal terbatas maka Pertamina yang harus menanggung beban itu,” kata Komaidi. 

Ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan yang lebih optimal kepada Pertamina untuk dapat kembali berjaya dan dapat meningkatkan produksi migas sehingga porsi impor bisa terus ditekan.

Komaidi juga menyatakan bila Direksi Pertamina saat ini harus berhati-hati menjaga cashflow perusahaan serta adanya risiko hukum kedepannya apabila rezim pemerintah saat ini sudah tak lagi memimpin dikarenakan Pertamina saat ini harus menanggung selisih harga BBM subsidi tanpa instruksi tertulis yang memadai dari pemerintah.

Dukungan regulasi dan keberpihakan berupa kebijakan-kebijakan yang pro terhadap kemajuan BUMN energi ini juga mutlak diperlukan, terlebih pada kondisi geopolitik tak menentu seperti sekarang ini. Dewi

Fokus Garap Ekosistem Urban, Bank BSN Relokasi Kantor Layanan di Tangerang

BISNISTODAY.COM, Tangsel – PT Bank Syariah Nasional (Bank BSN) terus menggenjot ekspansi bisnis dengan meresmikan relokasi Kantor Cabang (KC) baru di kawasan strategis Serpong, Tangerang Selatan, Banten pada Rabu (29/4).

Langkah strategis ini dilakukan untuk mengakselerasi penyaluran pembiayaan sekaligus memperkuat posisi wilayah tersebut sebagai destinasi investasi yang menjanjikan di kawasan Jabodetabek.

Direktur Utama Bank BSN, Alex Sofjan Noor mengatakan bahwa relokasi kantor yang memiliki luas bangunan 1.752 meter persegi ini merupakan respon atas kebutuhan layanan perbankan yang kian kompleks di wilayah dengan pertumbuhan ekonomi pesat.

“Bank BSN hadir di Kota Tangsel, yang juga merupakan salah satu jantung pusat pertumbuhan ekonomi Jabodetabek untuk memberikan kemudahan akses bagi nasabah,” kata Alex.

Secara nasional, aset Bank BSN per Maret 2026 telah mencapai sekitar Rp76,2 triliun dengan melayani lebih dari 1,34 juta nasabah di seluruh Indonesia.

Relokasi kantor cabang di Serpong, Tangsel ini menjadi sinyal kuat kesiapan perseroan dalam menghadapi tantangan pasar dan menangkap peluang pertumbuhan di sektor pembiayaan syariah.

Sejalan dengan visi perseroan untuk terus meningkatkan inklusi keuangan, Bank BSN menetapkan fokus pada tiga pilar bisnis Utama yaitu penyaluran KPR Subsidi, pengembangan UMKM melalui integrasi digital, serta inovasi produk konsumen.

Untuk perumahan, jelas Alex, Bank BSN menargetkan penyaluran KPR Subsidi sebanyak 73.700 unit secara nasional, di mana wilayah Tangerang dan sekitarnya menjadi kontributor utama mengingat ekosistem pengembang yang solid (REI, APERSI, HIMPERA).

Bank BSN kini tengah mengakselerasi digitalisasi perbankan melalui aplikasi Bale Syariah. Hingga saat ini, platform tersebut telah mencatatkan 1,4 juta pengguna dengan volume transaksi mencapai Rp2,7 triliun.

Alex menambahkan, perseroan akan terus bertransformasi menuju layanan full digital. “Ke depan, nasabah bisa membuka deposito hingga melakukan transaksi beli dan gadai emas cukup melalui Bale Syariah tanpa harus ke kantor. Kami juga akan mengembangkan Bale Syariah Korporat. Inovasi ini adalah bagian dari strategi kami untuk mendorong ekspansi kredit sekaligus efisiensi operasional,” tambah Alex.

Destinasi Investasi Potensial

Sementara itu Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, menyambut positif kehadiran kantor baru Bank BSN. Menurutnya, Bank BSN merupakan mitra strategis yang tepat untuk mendukung Tangerang Selatan (Tangsel) dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi di angka 5,6%.

Benyamin memaparkan bahwa Tangsel memiliki modalitas ekonomi yang kuat dengan 72% penduduknya berada di usia produktif (15-60 tahun) dan memiliki daya beli yang kuat dengan pendapatan per kapita sekitar Rp14 juta, jauh di atas rata-rata nasional.

Dengan potensi tersebut, Tangsel telah diproyeksikan dalam RPJMN sebagai kota pendidikan, hunian, perdagangan, dan jasa.

“Tangsel adalah destinasi investasi yang sangat menarik. Kami memiliki 12 perguruan tinggi, 30 RS Swasta yang mengarah pada health tourism, dan ribuan UMKM yang menjadi penggerak ekonomi. Kehadiran Bank BSN diharapkan dapat memfasilitasi kebutuhan ekonomi masyarakat serta pelaku usaha di Tangsel agar kita bisa tumbuh bersama,” jelas Benyamin.

Benyamin juga menitipkan harapan agar Bank BSN mampu menyasar sektor yang belum tergarap maksimal (unbankable), seperti enam pasar tradisional di Tangsel serta komunitas mahasiswa yang mencapai ratusan ribu orang.

Dengan ekosistem yang telah terbentuk, mulai dari sektor properti hingga pendidikan, kehadiran Bank BSN diyakini akan memberikan efek ganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah.

Bank BSN berkomitmen untuk terus menjadi bagian dari pertumbuhan kota melalui kolaborasi lintas sektor, yang didukung dengan infrastruktur perbankan digital yang handal dan jangkauan layanan yang lebih luas.

MoreFood Expo 2026 Buka Akses Supply Global Bagi Industri F&B di Tengah Dinamika Rantai Pasok

Bisnistoday— MoreFood Expo 2026 akan diselenggarakan pada 7–10 Mei 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, menghadirkan ruang eksplorasi bagi pelaku usaha dan pengunjung untuk menjelajahi produk, inovasi, serta akses industri F&B dari berbagai negara dalam satu kunjungan yang terintegrasi.

Industri makanan dan minuman (F&B) terus bergerak dinamis, dengan kebutuhan yang semakin luas terhadap produk dan akses lintas negara. Dalam beberapa waktu terakhir, dinamika global turut memengaruhi rantai pasok, termasuk ketersediaan bahan baku makanan hingga kebutuhan dasar kemasan seperti plastik, sehingga pelaku usaha dituntut lebih adaptif dalam mencari alternatif sumber produk dan mitra dari berbagai sumber.

Melihat kondisi tersebut, MoreFood Expo 2026 hadir sebagai ajang yang membuka akses bagi pelaku industri untuk menemukan produk, pemasok, dan solusi global dalam satu tempat. Dengan lebih dari 1.200 exhibitor lokal dan internasional, ajang ini menjadi hub untuk mempertemukan pemasok global dengan buyer di Indonesia dan juga Asia, sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha untuk terlibat dalam jaringan distribusi.

Banyak exhibitor internasional hadir dengan keseriusan untuk menjajaki pasar Indonesia, termasuk dalam mencari distributor, reseller, dan partner bisnis yang tepat.

Diselenggarakan bersamaan dengan Franchise & License Expo Indonesia (FLEI) dan Cafe & Brasserie Expo (CBE), pengunjung dapat mengakses tiga pameran sekaligus dalam satu lokasi. Kolaborasi ini diperkirakan bisa menarik hingga 30.000 pengunjung selama empat hari penyelenggaraan. 

Dari jumlah tersebut, MoreFood Expo sendiri menargetkan sekitar 15.000 pelaku industri dan pengunjung, di mana pengunjung dapat menemukan berbagai produk, bahan baku, teknologi, hingga solusi rantai pasok secara langsung dan lebih efisien.

MoreFood Expo tidak hanya menjadi tempat bertemunya pelaku industri, tetapi juga ruang bagi pengunjung untuk melihat, mencoba langsung, dan memahami perkembangan industri F&B, mulai dari produk hingga teknologi yang digunakan.

Pengalaman ini diperkuat melalui berbagai program seperti business matching dan hosted buyer program, peluncuran produk terbaru, sesi workshop dan diskusi, live cooking demo, hingga area inspirasi yang menghadirkan wawasan baru seputar industri F&B.

MoreFood Expo 2026 juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari institusi pemerintah, asosiasi industri, hingga organisasi terkait lainnya. Dukungan tersebut antara lain berasal dari Kementrian Pariwisata Republik Indonesia (Wonderful Indonesia), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Gabungan Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (GPHRI), Perhimpunan Perusahaan dan Pengelola Jasa Boga Indonesia (PPJI), Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Ikatan Pengusaha Bahan Bangunan Indonesia (IPBBI), Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI), Indonesia Pastry Alliance (IPA), serta Packaging Development Federation (PDF). Dukungan ini mencerminkan besarnya perhatian berbagai pemangku kepentingan terhadap MoreFood Expo sebagai ajang yang relevan bagi industri F&B, khususnya di Indonesia.

Carrie Wang, General Manager of Huamo Group (MoreFood Expo), mengatakan bahwa MoreFood Expo dirancang agar setiap pengunjung mendapatkan pengalaman yang benar-benar sesuai kebutuhan. 

Kami ingin MoreFood Expo benar-benar memberi nilai nyata bagi pelaku industri F&B di Indonesia. Di sini, mereka bisa langsung bertemu supplier lokal dan internasional berkualitas dan terkurasi, melihat lebih banyak pilihan, membandingkan secara langsung, dan menemukan opsi yang lebih kompetitif agar bisnisnya tetap berjalan di tengah dinamika pasar saat ini,” ujarnya dalam siaran pers nya, Jakarta 24/04/25/26.

Sementara itu, Royanto Handaya, Presiden Direktur Panorama Media, menilai bahwa kebutuhan akan akses global dalam industri F&B kini semakin nyata.

“Perubahan dalam rantai pasok global mendorong pelaku industri untuk berpikir lebih terbuka dan adaptif. Bersama Huamo Expo, kami melihat MoreFood Expo hadir di waktu yang sangat tepat sebagai upaya untuk menjawab kebutuhan tersebut, sehingga pelaku industri di Indonesia dapat tetap menjalankan bisnisnya dengan lebih stabil di tengah dinamika yang terjadi,” jelasnya.

MoreFood Expo 2026 menjadi kesempatan bagi pelaku usaha, buyer, maupun pengunjung untuk melihat langsung dinamika industri F&B sekaligus menemukan peluang yang dapat segera dimanfaatkan. Dewi

Dorong Ekosistem Keuangan Syariah, BSN Perkuat Layanan SiPA

BISNISTODAY.COM Jakarta-Bank Syariah Nasional (BSN) mempertegas komitmen dalam memperkokoh ekosistem keuangan syariah nasional melalui penguatan layanan Pengelolaan Dana Berdasarkan Prinsip Syariah Antarbank (SiPA).

Melalui penguatan layanan SiPA, Bank BSN optimistis dapat berkontribusi dalam menciptakan sistem keuangan syariah yang lebih modern, likuid, dan resilien.

Dalam kerjasama ini, tampak dalam foto, (dari kiri kekanan) Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia Dadang Muljawan, Direktur Utama Bank Syariah Nasional (BSN) Alex Sofjan Noor, Presiden Direktur Bank Aladin Syariah Koko Tjatur Rachmadi dan Presiden Direktur BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum berfoto Bersama disela acara Penandatanganan Kerja Sama SIPA di Jakarta, Rabu (22/4/2026). 

Kerja sama ini diharapkan menjadi fondasi kuat dalam membangun kepercayaan antarbank syariah serta meningkatkan daya saing industri di tingkat nasional maupun global.